PARBOABOA, Jakarta – Menjelang pergantian tahun, pemerintah kembali mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah yang diperkirakan masih akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Imbauan ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, sebagai respons atas dinamika cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu keselamatan masyarakat, khususnya di momen akhir tahun yang identik dengan mobilitas tinggi dan aktivitas perayaan.
Dalam keterangannya, Pratikno tidak hanya menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merayakan Tahun Baru dengan cara yang lebih sederhana dan penuh rasa solidaritas.
Menurutnya, situasi kebencanaan yang masih berlangsung di sejumlah daerah menuntut empati dan kepedulian bersama, agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan merata.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama pemerintah adalah pemulihan sektor pendidikan pascabencana. Pratikno menegaskan bahwa pemulihan pendidikan memiliki urgensi yang sama pentingnya dengan pemulihan layanan kesehatan.
Hal ini disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah yang digelar di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
“Tanggal 5 Januari 2026 sudah memasuki semester baru bagi anak-anak kita. Pemulihan pendidikan sama pentingnya dengan pemulihan pelayanan kesehatan,” kata Pratikno.
Pernyataan tersebut didasarkan pada hasil pendataan sementara yang menunjukkan masih adanya kendala serius di lapangan.
Hingga kini, tercatat lebih dari 50 sekolah yang belum siap secara infrastruktur akibat terdampak bencana. Kondisi ini memaksa pihak sekolah tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas darurat berupa tenda.
Situasi tersebut, menurut Pratikno, menjadi perhatian serius bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa upaya percepatan pemulihan sarana pendidikan harus terus dilakukan agar hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tidak terhambat terlalu lama.
“Masih ada 50-an sekolah yang infrastrukturnya belum siap,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pratikno juga mengingatkan bahwa risiko bencana hidrometeorologi tidak hanya terbatas pada wilayah Sumatra.
Ia menyebutkan bahwa daerah lain, termasuk Pulau Jawa, memiliki potensi terdampak yang sama sehingga kewaspadaan harus diterapkan secara menyeluruh dan tidak bersifat parsial.
Untuk itu, ia meminta agar apel kesiapsiagaan serta pengecekan peralatan penanggulangan bencana dilakukan secara rutin. Menurutnya, kesiapan tidak boleh menunggu sampai bencana terjadi. “Daerah yang tidak terdampak tetap harus siaga,” ucap Pratikno.
Selain kesiapan personel dan peralatan, penguatan sistem peringatan dini juga menjadi sorotan penting.
Pratikno meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi, termasuk pemantauan cuaca serta penggunaan aplikasi informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Ia menilai bahwa respons cepat dan tepat dari masyarakat sangat menentukan dalam upaya mengurangi dampak bencana.
Oleh karena itu, penyebaran informasi risiko secara luas dan mudah dipahami menjadi keharusan. “Informasi risiko harus disebarkan dengan baik ke masyarakat,” katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus turut menegaskan pentingnya langkah mitigasi yang tidak boleh ditunda oleh pemerintah daerah.
Ia menilai eskalasi bencana yang terjadi belakangan ini harus menjadi peringatan serius bagi seluruh kepala daerah untuk bertindak lebih tegas dan cepat.
“Yang dibutuhkan sekarang keberanian kepala daerah untuk mengimplementasikan regulasi. Mitigasi dan kesiapsiagaan disebut kunci menghadapi bencana hidrometeorologi basah,” ujar Wiyagus.
Dengan berbagai peringatan dan arahan tersebut, pemerintah berharap kesiapsiagaan nasional dapat terus ditingkatkan, tidak hanya dalam menghadapi pergantian tahun, tetapi juga sebagai bagian dari upaya jangka panjang membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman bencana yang kian kompleks.
